BENTUK VERBA TRANSITIF
BAHASA ARAB DAN BAHASA INDONESIA
(Studi Analisis Kontrastif Morfo-Sintaksis)

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Linguistik Kontrastif






Disusun oleh:
1.    Asep Nugraha                   1135020023
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA ARAB
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
            Bahasa Arab –selanjutnya dikatakan BA- merupakan bahasa asing yang sudah lama dikenal dalam masyaraka Indonesia, jauh lebih lama dibandingkan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Karena berdasarkan fakta sejarah bahwa masuknya BA bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia. Hal itu disebabkan BA sering dianggap sebagai bahasa agama sehingga ia tidak bisa dilepaskan dari agama Islam. Oleh karena itu, sangat mungkin pengajaran BA mulai berlangsung bersamaan dengan tersebarnya  Islam di Indonesia, yaitu sekitar abad ke-12 M.[1]
Belajar bahasa asing pada dasarnya merupakan suatu proses mekanis pembentukan kebiasaan. Dari pendapat tersebut, prediksi bahwa problema yang akan dihadapi dalam proses belajar mengajar BA adalah persoalan perbedaan kebiasaan, yakni kebiasaan berbahasa lama (bahasa ibu) dan kebiasaan berbahasa baru (bahasa asing atau Arab).
Mempelajari BA sebagai bahasa asing bagi orang Indonesia merupakan usaha untuk membentuk dan membina kebiasaan baru secara sadar. Ketika mempelajari bahasa ibu (Bahasa Indonesia-selanjutnya disebut BI), proses belajar itu berlangsung tanpa disadari. Jika seorang pelajar sudah mendapatkan pengetahuan tentang garamatika bahasanya sendiri, ia akan berusaha pula, mendapatkan hal-hal yang sama ketika ia mempelajari bahasa asing. Jadi, yang menjadi masalah dalam pengajaran bahasa asing adalah perbedaan antara bahasa yang dimiliki dengan bahasa yang dipelajari. Lebih tegas lagi dinyatakan oleh para pendukung analisis kontrastif, bahwa penyebab utama kesulitan dan kesalahan berbahasa dalam pengajaran bahasa asing adalah interferensi bahasa ibu. Kesulitan belajar bahasa itu sebagian atau seluruhnya disebabkan oleh perbedaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua.[2]
Oleh karena itu, seorang pengajar bahasa asing khususnya pengajar BA perlu mengadakan upaya guna mengatasi hal tersebut. Dan salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan membandingkan kedua bahasa tersebut secara sistematis. Dengan perbandingan itu, kita bisa mencari persamaan dan perbedaan antara kedua bahasa. Kegiatan ini dalam dunia linguistic dikenal dengan istilah analisis kontrastif. Sehingga segala hambatan yang ditemui pelajar akan diketahui penyebabnya dan segera dapat diberikan alternative penyelesaiannya.
Sehubungan dengan berbagai problema yang dijumpai dalam pengajaran BA, maka dalam makalah ini penulis lebih memfokuskan pembahasan dari segi morfologinya yaitu proses pembentukan sebuah kata. Di mana penulis juga membatasi kajian tersebut terhadap salah satu pembahasan morfologi BA yakni mengenai proses morfemis verba berdasarkan kehadiran objek yang diberi judul “Bentuk Verba Transitif BA dan BI”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis menyusun rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan Analisis Kontrastif Morfo-Sintaksis?
2. Bagaimana bentuk verba transitif dalam BA dan BI?
3. Bagaimana deskripsi analisis perbandingan bentuk verba transitif dalam BA dan BI?
4. Bagaimana prediksi tingkat kesulitan bentuk verba transitif BA dan BI?
5. Bagaimana materi ajar yang sesuai dalam pembelajaran bentuk verba transitif dalam BA dan BI?
6. Apa metode ajar yang tepat yang dapat digunakan dalam pembelajaran verba transitif dalam BA dan BI?
C. Tujuan Penulisan
            Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian morfologi kontrastif.
2. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan bentuk verba transitif dalam BA dan BI.
3. Untuk mengetahui deskripsi analisis perbandingan bentuk verba transitif dalam BA dan BI.
4. Untuk mengetahui prediksi tingkat kesulitan bentuk verba transitif dalam BA dan BI.
5. Untuk mengetahui materi ajar yang sesuai dalam pembelajaran bentuk verba transitif dalam BA dan BI.
6. Untuk mengetahui metode ajar yang tepat yang dapat digunakan dalam pembelajaran verba transitif dalam BA dan BI.

D. Manfaat Makalah
Makalah ini disusun dengan harapan agar dapat memberikan kegunaan baik secara teoretis maupun praktis. Secara teoretik, makalah ini berguna sebagai pengetahuan mengenai kajian analisis kontrastif morfologi. Secara praktis, makalah ini diharapkan bermanfaat bagi:
1. Penulis, sebagai wahana pengembangan ilmu pengetahuan dan konsep keilmuan serta pemahaman khususnya mengenai bentuk verba transitif BA dan BI.
2. Pembaca/guru, sebagai media informasi dan pengetahuan mengenai bentuk verba transitif BA dan BI.



BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Analisis Kontrastif Morfo-Sintaksis
Secara etimologi, analisis kontrastif morfo-sintaksis terdiri dari tiga kata yaitu kata analisis, kontastif, dan morfo-sintaksis. Secara leksikal, analisis, dalam Kamus Besar BI (KBBI) diartikan sebagai penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.[3]
Adapun kata kedua yaitu kontrastif. Kontrastif merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, yaitu kata contrastive, yang mana menurut Tarigan dalam bukunya Pengajaran Analisis Kontrastif Bahasa, kata contrastive merupakan kata keadaan yang diturunkan dari kata kerja to contrast.[4] Sementara itu kata to contrast  dijelaskan dalam  The American College Dictionary sebagai berikut:[5] contrast’ :  to set in opposition in order to show unlikeness; compare by observing differences menempatkan dalam oposisi atau pertentangan dengan tujuan memperlihatkan ketidaksamaan; mempertimbangkan dengan jalan memperhatikan perbedaan-perbedaan.
Mengenai kata selanjutnya yakni morfo-sintaksis. Pada dasarnya, kata morfo-sintaksis ini merupakan gabungan dari kata morfologi dan sintaksis. Morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji aspek kebahasaan yang berupa kata dan bagian-bagiananya. Dengan kata lain, morfologi membahas pembentukan kata. Morfologi juga dijelaskan sebagai bidang linguistik yang mempelajari morfem dan kombinasinya.[6] Adapun sintaksis adalah tataran kebahasaan terbesar. Di mana sintaksis mengkaji hubungan antar kata dalam suatu kontruksi. [7]
Setelah memahami beberapa pengertian dasar mengenai gabungan kata analisis kontrastif morfo-sintaksis, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan analisis kontrastif morfo-sintaksis adalah upaya menyelediki perbandingan antara dua bahasa atau lebih yang berkaitan dengan kajian morfologis dan sintaksis.

B. Bentuk Verba Transitif BA
Dalam analisis ini, penulis akan membahasa mengenai proses morfemis verba BA dan BI yang didasarkan pada kehadiran objek. Di mana jika ditelaah lebih jauh, proses morfemis verba merupakan kajian morfologi dan pembahasan mengenai objek merupakan kajian sintaksis. Oleh karenanya, penulis mengkategorikan analisis ini ke dalam kajian morfo-sintaksis. Adapun pembahasannya sebagai berikut:
1. Pengertian Verba Transitif BA
Sebagaimana dalam BI dan Inggris, BA juga mengenal kata kerja transitif dan kata kerja intransitif. Kata kerja transitif adalah kata kerja yang membutuhkan obyek penderita (maf’ul bih) dan intransitif tidak membutuhkannya. Dalam BA, verba transitif disebut sebagai al-Fi’il al-Muta’addy (الفِعْل الْمُتَعَدِى) dan Intransitif disebut al-Fi’l al-Lazim (الْفِعْل اللازِم).
Selaras dengan pengertian dalam BI, Fu’ad Ni’mah dalam bukunya Mulakhas Qawaid Al-Lughah Al-Arabiyyah mendefiniskan al-fi’lu al-muta’addy sebagai berikut:[8]
الفعل المتعدى هو الذى لا يكتفى بفاعله ويحتاج إلى مفعول به واحد أو أكثر
 “Al-fi’lu al-mutaddy ialah fi’il yang belum cukup hanya dengan fa’ilnya saja melainkan membutuhkan maf’ul bih baik satu atau lebih.”
2. Bentuk Verba Transitif BA
Setelah penulis membaca dan memahami pembahasan verba transitif BA maka dapat terlihat bahwa bentuk verba transitif BA ada 2 macam yakni:[9]
a.    Al-Fi’l al-Muta’addy bisa didapatkan dari kata dasar itu sendiri karena sudah bermakna transitif, seperti ضَرَبَ: memukul, كَتَبَ: menulis, dll.
b.    Al-Fi’l al-Muta’addy bisa didapatkan dengan memodifikasi bentuk kata kerja intransitive menjadi transitif atau disebut dengan proses ta’diyah.
Berdasarkan kata dasar yang memang sudah bermakna transitif, menurut Fu’ad Ni’mah fi'il muta'addi ada 3 (tiga) macam, di antaranya:[10]
a) Fi'il yang membutuhkan satu maf'ul
Mayoritas fi'il muta'addi hanya butuh pada satu maf'ul. Contoh: أكل محمد طعاما (Muhammad memakan makanan).
b) Fi'il yang memerlukan dua maf'ul.
Tipe kedua ini terbagi menjadi dua :
-Fi'il yang menashabkan dua maf'ul yang asalnya mubtada dan khobar. Adapun fi’il-fi’il tersebut yaitu ada tiga macam:
Kategori pertama: ظن ـ خال ـ حسب ـ زعم ـ عد ـ حجا ـ هب Fi'il ini disebut fi'il rojhan (أفعال الرجحان).
Kategori kedua: رأى علم ـ وجد ـ درى ـ تعلم ـ ألفى Fi'il ini menunjukkan makna yakin (افعال اليقين). Dan kedua kategori di atas disebut أفعال القلوب (fi'il hati)
Kategori ketiga: صير ـ جعل ـ وهب ـ تخذ ـ اتخذ ـ ترك ـ رد Fi'il ini disebut أفعال التحويل (fi'il perubahan).
- fi'il yang menashabkan pada maf'ul dua yang asalnya bukan mubtada dan khabar.
Fi'il yang membutuhkan maf'ul dua antara lain:
- كسا Contoh: كسوت زيدا ثوبا (Aku memakaikan baju Zaid)
- ألبس Contoh: ألبس الفنان ضفة النهر حللا سندسية
- سأل Contoh: سأل الفقير الغنى مالا (Orang fakir meminta harta pada orang kaya)
- أعطى Contoh: أعطيت الفقير دولارا (Aku memberi dolar pada si fakir itu)
- أطعم Contoh: أطعمت الجائع خبزا (Aku memberi roti pada orang lapar).
Daftar lengkap tentang fi'il-fi'il yang mutaaddi pada maf'ul dua dapat dilihat pada kamus Arab.
c) Fi'il yang memerlukan tiga maf'ul.
Termasuk dari fi'il yang memerlukan tiga maf'ul adalah sebagai berikut: أرى ـ أعلم ـ حدَّث ـ نبَّأ ـ أنبأ ـ خبَّر ـ أخبر
Fi'il ini terbagi menjadi dua:
- Fi'il yang muta'adi pada maf'ul tiga dengan perantaraan hamzah yang dikenal dengan hamzah naql (همزة النقل) atau hamzah ta'diyah yang jumlahnya ada dua fi'il yaitu أرى ، أعلم
Contoh: أرى والدك زيدا خالدا أخاك dan أعلمت عليا محمدا مسافرا (Aku memberitahu Ali [bahwa] Muhammad seorang musafir).
-Fi'il muta'adi pada maf'ul tiga tanpa perantaraan hamzah ada lima yaitu حدَّث, نبَّأ, أنبا ,خبَّر, أخبر
Contoh: (Aku menceritakan pada Muhammad bahwa Ali datang) أنبأت محمدا عليا قادما
            Adapun verba transitif yang berasal dari proses ta’diyah adalah sebagai berikut:[11]
a) Menambahkan hamzah qath’i pada awal verba
Contoh:  جَلَسَ  (duduk) èأَجْلَسَ (mendudukkan)
               صَلُحَ   (baik) è أَصْلَحَ    (memperbaiki)
               نَامَ      (tidur) è أَنَامَ    (menidurkan)
b) Menambahkan tasydid pada huruf kedua verba dasar
Contoh:  بَعُدَ  (jauh) è  بَعَّدَ (menjauhkan)
             كَثُرَ     (banyak) è كَثَّرَ (memperbanyak)
               فَرِحَ    (gembira) è فَرَّحَ (menggembirakan)
c) menambahkan alif setelah huruf pertama verba dasar 
contoh:  جلس   èجالس
               قبل è قابل
              قتل è قاتل
d) menambahkan hamzah, sin, dan ta di awal verba
contoh:  حسن     è استحسن
e) tadlmin yakni perpindahan kelas kata
contoh: عجم è اعجم  
             عراق è اعرق
f) tahwil yakni pengubahan harokat huruf kedua verba dasar
contoh: فخر-يفخَر è فخر-يفخُر
g) Menambahkan huruf jar (preposisi) setelah kata kerja intransitif, khususnya yang termasuk ke dalam idiom (al-‘Ibarat al-Ishthilahiyah)
Contoh:  قَامَ  (berdiri)è   قَامَ بِ (mendirikan, melaksanakan)
               ذَهَبَ   (pergi) è ذَهَبَ بِ (menghilangkan) atau ذَهَبَ عَنْ (meninggalkan)
Perhatikan dan bandingkan contoh kedua bentuk itu dalam kalimat:
Intransitif        : جَلَسَ الْوَلَدُ عَلَى الْكُرْسِى     Anak itu duduk di atas kursi
Transitif           : أَجْلَسَ الأَبُ وَلَدَهُ عَلَى الكُرْسِى  Ayah mendudukkan anaknya di atas kursi

C. Bentuk Verba Transitif BI
Menurut Kamus Besar BI (KBBI), verba dapat didefinisikan sebagai  kata yangg menggambarkan proses, perbuatan, atau keadaan. Verba adalah kategori yang dominan berfungsi sebagai Predikat (P) dalam klausa. Dengan kata lain verba dapat diartikan sebagai kata kerja yang biasanya berfungsi sebai predikat (P) dalam kalimat.[12]
Jika dilihat berdasarkan perilaku semantiknya atau lebih khususnya berdasarkan kehadiran objek, verba (kata kerja) dapat digolongikan menjadi 2, yaitu: verba transitif dan verba intransitif.[13]

1. Pengertian Verba Transitif BI
Verba transitif adalah verba yang memerlukan nomina sebagai objek dalam kalimat aktif, dan objek tersebut dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. Contoh:
1.      Teroris itu menembak polisi
2.      Para pekerja mencari uang di kota
3.      Ayah menanam ketela di ladangnya
Kata polisi, uang, dan ketela adalah objek yang harus hadir mengikuti verba menembak, mencari, dan menanam. Tanpa kehadiran verba-verba tersebut tampaknya belum lengkap. Masih terasa kurang, baik semantis maupun gramatikal.[14] Verba yang dicetak miring adalah verba transitif. Masing-masing diikuti nomina yang dikategorikan sebagai objek. Di mana nomina tersebut dapat dijadikan subjek pada kalimat pasif.
Contoh:
1.      Polisi itu ditembak  oleh teroris
2.      Uang dicari oleh para pekerja di kota
3.      Ketela ditanam oleh ayah di ladangnya
2. Bentuk Verba Transitif BI
Sebagaimana dalam verba transiti BA, dalam verba transitif BI juga ada 2 macam yakni:
a.       Verba transitif yang berasal dari kata dasar itu sendiri karena sudah bermakna transitif, seperti: memukul, menulis, dll.
b.      Verba transitif yang didapatkan dengan memodifikasi bentuk kata kerja intransitive menjadi transitif atau perubahan kelas kata yang disebut dengan proses penurunan verba transitif.
Berdasarkan kata dasar yang memang sudah bermakna transitif, menurut Moeliono ada 3 (tiga) macam, di antaranya:[15]
a) Verba Monotransitif / Ekatransitif
            Verba monotransitif/ ekatransitif adalah verba transitif yang diikuti oleh satu objek, misalnya : membawa, membeli, mengairi dan mendinginkan. Contoh dalam kalimat.
·         Ela membeli sebuah buku baru
·         Mira membawa adiknya ke rumah sakit
·         Petani mengairi sawahnya
b) Verba Bitransitif /Dwitransitif
            Verba bitransitif atau dwitransitif adalah kata kerja transitif yang menghendaki dua buah obyek kata kerja transitif semacam ini disebut juga kata kerja transitif ganda, misalnya : membelikan, menuliskan, menganugerahkan, dsb.
Contoh dalam kalimat :
·         Ayah menghadiahkan sebuah buku kepada saya
·         Salma sedang mencarikan adiknya pekerjaan
·         Aldi akan membelikan kekasihnya baju baru
c) Verba Semitransitif
Verba semitransitif adalah verba yang objeknya boleh ada dan boleh juga tidak, misalnya: membaca, menulis, dsb.
Contoh dalam kalimat:
·         Zaki sedang membaca komik
·         Zaki sedang membaca.
Selanjutnya, bentuk verba transitif yang didasarkan pada proses penurunan verba transitif, di antaranya sebagai berikut:[16]
a) Penurunan melalui transposisi, adalah pemindahan kata dari satu kelas kata ke kelas kata yang lain tanpa ada perubahan bentuk.
            Dalam BI, terdapat kelompok kata yang memiliki kelas kata ganda, misalnya sebagai nomina ataupun sebagai verba. kata-kata seperti jalan, telepon cangkul dapat dipakai sebagai verba ataupun sebagai nomina.
Contoh:
Mari kita jalan saja è sebagai verba
Apa nama jalan ini? è sebagai nomina
b) Penurunan melalui afiksasi, adalah penambahan prefiks, infiks, atau atau sufiks pada kata dasar.
Penurunan verba transitif melalui afiksasi dapat diturunkan dari berbagai dasar dengan menggunakan prefix meng-, dan kombinasi meng--kan, adapun yang dikombinasikan juga dengan sufiks –i maupun merupakan gabungan prefiks-sufiks per- - kan dan per- -i.
Contoh:
Beli è membeli
Lupa è melupakan
Tahu è mengetahui
Datang è mendatangkan
c) Penurunan melalui reduplikasi, adalah pengulangan dari suatu kata dasar, baik dengan penambahan afiks atau tidak. 
            Verba transitif juga dapat diturunkan dengan mengulangi kata dasar, umumnya dengan afiksasi pula.
Contoh:
Balik è bolak-balik
Coret è mencorat-coret
Cita-cita è bercita-cita
Selain ketiga proses di atas, Tarigan menambhakan bahwa verba transitif juga dapat dibentuk dari proses konversi. Konversi adalah semua perubahan kata dasar atau suatu jenis kata menjadi kata lain akibat penambahan suatu afiks.[17]
Contoh:
Sapu è Menyapu
Besar è Memperbesar

D. Deskripsi Analisis Perbandingan Verba Transitif BA dan BI
Jika dilihat dari bentuk verba transitif yang pertama yakni berasal dari kata dasar itu sendiri karena sudah bermakna transitif, maka perbandingan bentuk verba transitif BA dan BI adalah sebagai berikut:
No.
Bahasa Arab
Contoh
Bahasa Indonesia
Contoh
1
Satu maf’ul
فهم الطلاب الدرس
Ekatransitif
Ayah sedang minum kopi
2
Dua maf’ul
Dwitransitif
Ibu akan membelikan adik mainan baru
Berasal dari mubtada dan khabar (3)
-Af’alu rojhan atau af’alu zhan
-af’alu yaqin
-af’alu tahwil


-ظننت الأستاذ غائبا

-علمتك ماهرا
-صيّرت القتن دثارا
-
-
Bukan berasal dari mubtada dan khabar
-منع الأم بنتها ذاهبة إلى شاطئ البحر
-
-
3
Tiga maf’ul

-
-

Dengan perantara hamzah
أعلمت عليا الخبر صحيحا
-
-

Tidak dengan perantara hamzah
حدّثت عبد الله محمدا صديقا
-
-

Selanjutnya, mengenai bentuk verba transitif yang kedua adalah berdasarkan proses ta’diyah atau modifikasi verba transitif, maka perbandingan bentuk verba transitif BA dan BI adalah sebagai berikut:
No.
Bahasa Arab
Contoh
Bahasa Indonesia
Contoh
1
Ditambah hamzah di awal verba
كرم        أكرم
أكرمت الأستاذ
Afiksasi

Datang=
Mendatangkan
2
Di Tadl’if huruf kedua verba dasarnya

فرح        فرّح
فرّح ألأب ولده
-
-
3
Ditambahan Alif setelah huruf pertama verba dasar
جلس        جالس
جالس محمد صديقه
-
-
4
Ditambah hamzah, sin, dan ta di awal verba
حسن         إستحسن
إستحسن المدرس تلميذا
Afiksasi

Kira=
memperkirakan
5
Tadlmin
عجم         اعجم
Konversi
Sapu=menyapu
6
Tahwil
يفخَرُ        يفخُرُ
-
-
7
Ditambah harfu jar
قام         قام ب
-
-



E. Prediksi Tingkat Kesulitan Bentuk Verba Transitif BA dan BI
Setelah melakukan perbandingan bentuk verba transitif BA dan BI, maka kita dapat memperkirakan tingkat kesulitannya sebagai berikut:
1. Berdasarkan verba dasar yang sudah bermakna transitif
No.
Bentuk
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Tingkat Kesulitan
1
Satu maf’ul
ü       
ü   
0 (tiada perbedaan)
2
Dua maf’ul
ü       
ü   
3 (Beda distribusi)

Berasal dari mubtada dan khabar (3)
-Af’alu rojhan atau af’alu zhan
-af’alu yaqin
-af’alu tahwil


ü       
-

Bukan berasal dari mubtada dan khabar
ü       
-
3
Tiga maf’ul
ü       
-
4 (tiada persamaan)

Dengan perantara hamzah
ü       
-

Tidak dengan perantara hamzah
ü       
-

2. Berdasarkan verba transitif yang dimodifikasi melalui proses ta’diyah atau penurunan verba transitif
No.
Bentuk
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Tingkat kesulitan
1
Ditambah hamzah di awal verba
ü       
ü   
0 (tiada perbedaan)
2
Di Tadl’if huruf kedua verba dasarnya
ü       
-
4 (tiada persamaan)
3
Ditambah Alif setelah huruf pertama verba dasar
ü       
-
4 (tiada persamaan)
4
Ditambah hamzah, sin, dan ta di awal verba
ü       
ü   
0 (Tiada Perbedaan)
5
Tadlmin
ü       
ü   
0 (tiada perbedaan)
6
Tahwil
ü       
-
4 (tiada persamaan)
7
Ditambah harfu jar
ü       
-
4 (tiada persamaan)

F. Materi Ajar Verba Transitif BA dan BI
Berdasarkan analisis kontrastif tentang bentuk verba transitif dengan menentukan prediksi kesulitan pembelajarannya, maka materi ajar yang dapat disajikan sebagai berikut :
1. Menyajikan materi berdasarkan verb transitif asli yaitu:
a.       Materi awal yang dianggap lebih mudah yaitu bentuk verba transitif satu maf’ul
b.      Materi kedua merupakan materi yang dianggap lebih sulit yaitu bentuk verba transitif dua maf’ul
c.       Materi ketiga merupakan materi yang dianggap paling sulit bentuk verba transitif tiga maf’ul
2. Menyajikan materi berdasarkan verba transitif modifikasi ta’diyah/ turunan, yaitu:
a.       Materi awal yang dianggap lebih mudah yaitu ditambah hamzah di awal verba, ditambah hamzah, sin, dan ta di awal verba dan Tadlmin
b.      Materi kedua merupakan materi yang dianggap lebih sulit yaitu ditambah Alif setelah huruf pertama verba dasar, Tahwil dan ditambah harfu jar


G. Metode Ajar Verba Transitif BA dan BI
Ada dua metode yang dapat digunakan dalam melakukan pengajaran verba transitif BA dan Bi, di antaranya:
1. Metode Audio Lingual
Kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode audio lingual, pada umumnya menggunakan pendekatan yang disebut Oral Approach. Ciri khas dari Oral Approach adalah digunakan latihan-latihan Pattern practice atau Mim-mem (meniru dan mengingat).[18] Metode Audio Lingual berorientasi pada hasil analisa struktur bahasa dan perbandingan antara bahasa ibu pembelajar dengan bahasa sasaran yang pelajarinya, menentukan pola kalimat yang harus dipelajarinya serta membiasakan bahasa yang baru dipelajarinya dengan menggunakan latihan drill terutama Pettern practice. Pembelajar dituntut perlu menirukan dan mengingat atau menghapal materi pengajaran yang telah diperolehnya. Dalam kegiatan belajar mengajar yang menggunakan metode Audio lingual materi pengajaran diberikan dari yang mudah, bertahap ke materi yang sulit.[19]
Cara pemakaian metode Audio Lingual adalah sebagai berikut:
Untuk mengukur tingkat kemampuan yang telah dicapai dalam hal pemakaian kosakata dan pola kalimat digunakan jenis latihan Pattern Practice, yaitu:
1. Latihan pattern practice dilakukan dalam tempo yang sesuai dengan keadaan.
2. Pengajar bicara dengan kecepatan yang wajar atau alami sesuai dengan situasi / kondisi komunikasi yang sebenarnya.
3. Kosakata baru diajarkan dengan melalui pemakaian pola kalimat yang telah diajarkan sebelumnya.
4. Pemakaian pola kalimat diluar yang telah diajarkan bukan merupakan hal yang salah. Jenis latihan yang dapa digunakan dalam kegiatan belajar mengajar bahasa asing (Bahasa Arab) dilihat dari bentuknya dapat dikelompokkan menjadi empat jenis.
Jenis latihan yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar bahasa asing (Bahasa Arab) dilihat dari bentuknya dapat dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu:
1. Subtitution drill. Latihan menukar kata (yang digaris bawahi) dengan kata lain.
2. Grammar drill Latihan mengubah bentuk kata (yang digaris bawahi).
3. Expansion drill Latihan mengembangkan kalimat dengan cara menambah kata sesuai dengan maknanya.
4. Responce drill Latihan membuat pertanyaan atau menjawab pertanyaan dengan menggunakan kalimat yang telah dipelajari.
Latihan drill akan baik sekali apabila dibantu media pengajaran seperti, gambar, barang atau benda asli maupun tiruan. Dan juga, tujuan atau sasaran pengajaran akan tercapai dengan baik bila digunakan metode Mim-mem sebelum atau sesudah latihan pattern practice untuk kosakata atau kalimat.
2. Metode Kaidah dan Terjamah
Pembelajaran dalam metode ini, guru tidak mendapatkan beban yang berarti, dan tidak mendapatkan kesempatan untuk berkreasi dan berinovasi membuat kegiatan yang bervariasi. Adapun teknik yang dapat dilakukan antara lain:[20]
a)    Guru masuk ruangan kelas sedangkan peserta didik duduk di kusrsi masing-masing
b)   Membuka buku teks para peserta didik
c)    Memulai pelajaran dengan membaca teks yang ada dalam halaman buku teks, didahului mencatat kata-kata baru pada buku catatan mufradat atau mencatatnya dibagian bawah
d)   Guru menerjamahkan mufradat kedalam bahasa peserta didik (bahasa ibu) atau kedalam bahasa perantara
e)    Guru menulisnya ke papan tulis, atau mendektikannya pada siswa, lalu siswa menulisnya
f)    Guru membacakan teks tersebut, kemudian peserta didik diberi kesempatan membaca teks tersebut. Di sela-sela membaca itu, peserta didik berusaha menerjamahkan kalimat-kalimat yang mereka baca ke bahasa ibu.



BAB III
PENUTUP

A.  Simpulan
Berdasarkan pemaparan yang telah dikemukakan pada pembahasan sebelumnya, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut:
Analisis kontrastif morfo-sintaksis adalah upaya menyelediki perbandingan antara dua bahasa atau lebih yang berkaitan dengan kajian morfologis dan sintaksis.
Dalam makalah ini, penulis membahasa mengenai proses morfemis verba BA dan BI yang didasarkan pada kehadiran objek. Sehingga, penulis mengkategorikan analisis ini ke dalam kajian morfo-sintaksis.
Berdasarkan analisis tersebut, diperoleh kemungkinan tingkat kesulitan dalam proses pembelajaran bentuk verba transitif BA dan BI seperti tiada persamaan, tiada perbedaan, dan beda distribusi.
Identifikasi perbedaan bentuk verba transitif BA dan BI sebagai bahasa asing ini bertujuan untuk meramalkan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi oleh peserta didik dalam pembelajaran. Yang pada akhirnya dari hasil analisis tersebut dapat dirumuskan pendekatan, metode dan dapat menghasilkan rumusan bahan ajar yang berbasis kontrastif. Sehingga dari analisis kontrastif tersebut diharapkan dapat memberikan kemudahan peserta didik dalam belajar bahasa asing.
Adapun metode yang sesuai dalam pembelajaran bentuk verba transitif BA dan BI adalah metode audio lingual dan metode kaidah dan terjemah.

B.  Saran
Untuk menyelesaikan masalah siswa mengenai pembelajaran bentuk verba transitif BA dan BI, guru harus memilih metode dan teknik pembelajaran yang efektif dan menyenangkan dengan menggunakan metode, teknik, dan media pembelajaran yang tepat.


DAFTAR PUSTAKA

Asrori, Imam. Sintaksisis Bahasa Arab Frasa-Klausa-Kalimat. Malang:Misykat,2004.
Asyrofi, Syamsuddin. Metode Pembelajaran Bahasa Arab. Yogyakarta: Idea press, 2010.
Aziz Bin Ibrahim, Abdul.  Metode Pengajaran Bahasa Arab Untuk Non-Arab: dialih bahasakan oleh Jailani Musni.
Chaer, Abdul. Gramatika Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta, 1993.
Dayudin. Morfologi Bahasa Arab. Bandung: UIN SGD Bandung, 2014.
Ghulayani, Musthafa. Jami’u al-durus al-arabiyyah. Beirut: Al-Maktabah al-Ashriyyah.
KBBI Offline
Moeliono, dkk. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2010.
Ni’mah, Fu’ad. Mulakhas Qawaid Al-Lughah Al-Arabiyyah. Damaskus: Daar al-Hikmah.
Tarigan, Henry Guntur. Pengajaran Analisis Kontrastif Bahasa. Bandung: Angkasa, 2009.
Tarigan, Henry Guntur. Pengajaran Morfologi. Bandung: Angkasa, 2009.




[1] Syamsuddin Asyrofi, Metode Pembelajaran Bahasa Arab, (Yogyakarta: Idea press, 2010), hal.53
[2] Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Analisis Kontrastif Bahasa, (Bandung: Angkasa, 2009),hal.6
[3] KBBI Offline
[4] Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Analisis Kontrastif Bahasa, Op. Cit., hal.217
[5] Ibid., hal. 218
[6]Imam Asrori, Sintaksisis Bahasa Arab Frasa-Klausa-Kalimat (Malang:Misykat,2004), Hal.22
[7] Ibid., hal.26
[8] Fu’ad Ni’mah, Mulakhas Qawaid Al-Lughah Al-Arabiyyah, (Damaskus: Daar al-Hikmah), hal.78
[10] Fu’ad ni’mah, Op. Cit., hal.78
[11] Dayudin, Morfologi Bahasa Arab, (Bandung: UIN SGD Bandung, 2014), hal.103, lihat pula Musthafa Ghulayani, Jami’u al-durus al-arabiyyah, (Beirut: Al-Maktabah al-Ashriyyah), hal.34 lihat pula Fu’ad Ni’mah, op.cit., hal.79
[12] KBBI Offline
[13] Moeliono, dkk, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2010), hal.94
[14] Abdul Chaer, Gramatika Bahasa Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993) Hal, 134-135
[15] Moeliono, Op. Cit., hal.95-97
[16] Ibid., hal.121
[17] Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Morfologi, (Bandung: Angkasa, 2009), hal.180
[19] Abdul Aziz Bin Ibrahim, Metode Pengajaran Bahasa Arab Untuk Non-Arab: dialih bahasakan oleh Jailani Musni. Hal.64
[20] Ibid., Hal.19-20

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ASGA - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -